Sabtu, 04 Juni 2011

Katekese tentang Roh Kudus oleh St. Yohanes Maria Vianney

O, anak-anakku, betapa mengagumkan! Allah Bapa adalah Pencipta kita, Allah Putra adalah Penebus kita, dan Allah Roh Kudus adalah Pembimbing kita…. Manusia dari dirinya sendiri bukan apa-apa, tetapi dengan Roh Kudus ia sungguh mengagumkan. Manusia sepenuhnya adalah duniawi dan hewani; tak ada selain dari Roh Kudus yang dapat mengangkat pikirannya dan menaikkannya hingga tinggi. Mengapa para kudus begitu melepaskan diri dari keterikatan dunia? Sebab mereka membiarkan diri dibimbing oleh Roh Kudus. Mereka yang dibimbing oleh Roh Kudus memiliki pemikiran-pemikiran yang benar; itulah sebabnya mengapa begitu banyak orang bodoh lebih bijaksana daripada mereka yang terpelajar. Jika kita dibimbing oleh Tuhan kekuatan dan terang, kita tidak akan tersesat.

Roh Kudus adalah terang dan kekuatan. Ia mengajarkan kepada kita bagaimana membedakan kebenaran dan kepalsuan, yang baik dan yang jahat. Seperti kaca pembesar memperbesar apa yang dilihatnya, Roh Kudus menunjukkan kepada kita yang baik dan yang jahat dalam skala besar. Dengan Roh Kudus kita melihat segala sesuatu dalam proporsinya yang benar; kita melihat kebesaran dari tindakan dan perbuatan terkecil yang dilakukan bagi Tuhan, dan kebesaran dari kesalahan-kesalahan terkecil. Bagai seorang pembuat jam dengan kacanya membedakan roda-roda jam yang paling kecil, demikian juga kita, dengan terang Roh kudus, membedakan segala detil-detil dari kehidupan kita yang malang. Kemudian, kelemahan terkecil akan tampak sangat besar, dan dosa terremeh menjadikan kita ngeri. Itulah sebabnya mengapa Perawan Tersuci tidak pernah berdosa. Roh Kudus memberinya pengertian akan kengerian dosa; ia jijik dan ngeri bahkan pada kesalahan terkecil sekali pun.
Mereka yang memiliki Roh Kudus tidak tahan akan dirinya sendiri, begitu baik mereka mengenali kemalangan mereka yang menyedihkan. Orang-orang sombong adalah mereka yang tidak memiliki Roh Kudus.

Orang-orang duniawi tidak memiliki Roh Kudus, atau jika mereka memiliki-Nya, hanyalah untuk sesaat saja. Roh Kudus tidak tinggal dalam mereka; hiruk-pikuk dunia mengusir-Nya pergi. Seorang Kristen yang dibimbing oleh Roh Kudus tidak sulit meninggalkan kesenangan-kesenangan duniawi guna mengejar kesenangan-kesenangan surgawi; ia tahu perbedaan antara keduanya. Mata dunia tidak dapat melihat lebih jauh dari kehidupan sekarang, seperti mata kita tidak dapat melihat dinding ini apabila pintu gereja ditutup. Mata seorang Kristen melihat jauh ke dalam keabadian. Bagi dia yang menyerahkan dirinya dalam bimbingan Roh kudus, tampaknya tak ada dunia; sebab di dunia tampaknya tidak ada Tuhan…. Oleh sebab itu, patutlah kita menemukan siapakah yang membimbing kita. Jika kita dibimbing bukan oleh Roh Kudus, usaha kita akan sia-sia belaka; tidak ada arti atau keselamatan dalam segala hal yang kita lakukan. Jika kita dibimbing oleh Roh Kudus, kita mencicipi kemanisan yang nikmat … yang cukup membuat kita mati karena bahagia!

Mereka yang dibimbing oleh Roh Kudus mengalami segala macam kebahagiaan dalam dirinya, sementara orang-orang Kristen yang tidak taat berguling-guling dalam duri dan api. Jiwa di mana Roh Kudus tinggal tak akan pernah bosan dalam kehadiran Allah; hatinya memancarkan napas kasih. Tanpa Roh Kudus, kita bagaikan batu-batu di jalan…. Genggam dalam tanganmu satu sepon penuh air dan dalam tanganmu yang lain beberapa kerikil; kemudian peras keduanya. Tak ada yang keluar dari kerikil-kerikil itu, tetapi dari sepon akan keluar banyak air. Sepon itu bagaikan jiwa yang dipenuhi Roh Kudus, dan batu itu bagaikan jiwa yang dingin membatu di mana Roh Kudus tidak dapat tinggal.

Jiwa yang dirasuki Roh Kudus menikmati kemanisan doa, hingga ia mendapati waktu selalu terlalu singkat; jiwa tidak pernah kehilangan kehadiran Allah. Jiwa yang demikian, di hadapan Juruselamat kita yang baik dalam Sakramen Kudus di Altar, bagaikan anggur-anggur ranum di bawah alat peras. Roh Kudus membentuk pikiran dan mengilhami kata-kata dalam hati orang-orang benar …. Mereka yang memiliki Roh Kudus tidak melakukan yang jahat; segala buah-buah Roh Kudus baik adanya. Tanpa Roh Kudus segalanya dingin; karenanya, apabila kita merasa kehilangan semangat doa, haruslah kita bergegas mendaraskan novena kepada Roh Kudus mohon iman dan cinta…. Lihat, apabila kita selesai melakukan retret, kita dipenuhi hasrat-hasrat baik: hasrat-hasrat baik ini adalah napas Roh Kudus, yang mengunjungi jiwa-jiwa kita, dan memperbaharui segala sesuatu, seperti angin sepoi-sepoi yang melelehkan es dan membawa kembali musim semi …. Kalian yang bukan para kudus yang hebat, kalian masih punya banyak waktu untuk menikmati kemanisan doa dan kehadiran Allah: inilah kunjungan-kunjungan Roh Kudus. Jika kita memiliki Roh Kudus, hati kita berkembang - bermandikan kasih ilahi. Seekor ikan tidak pernah mengeluh karena terlalu banyak air, demikian juga seorang Kristen yang baik tidak pernah mengeluh karena melewatkan terlalu banyak waktu dengan Allah yang baik. Sebagian orang menganggap agama itu menjemukan, dan itu karena mereka tidak memiliki Roh Kudus dalam diri mereka.

Jika jiwa-jiwa terkutuk itu ditanya: Mengapa kalian berada di neraka? mereka akan menjawab: karena kami menolak Roh Kudus. Dan apabila para kudus ditanya: Mengapa kalian berada di surga? mereka akan menjawab: karena kami mendengarkan bimbingan Roh Kudus. Jika pemikiran-pemikiran yang baik terlintas di benak kita, itulah Roh Kudus yang mengunjungi kita. Roh Kudus adalah kekuatan. Roh Kudus yang menopang St. Simeon di tiang penyiksaan; Ia yang menopang para martir. Tanpa Roh Kudus, para martir pastilah jatuh berguguran bagai daun-daun berguguran dari pohonnya. Ketika api dinyalakan atas mereka, Roh Kudus memadamkan panas kobaran api dengan kobaran cinta ilahi. Allah yang baik, ketika mengutus Roh Kudus-Nya kepada kita, berlaku bagaikan seorang raja agung yang hendak mengirimkan utusannya untuk membimbing salah satu orangnya, dengan mengatakan, “Engkau akan menemani orang ini ke mana pun ia pergi, dan engkau akan membawanya kembali kepadaku dalam keadaan selamat tanpa kekurangan suatu apa pun.” Betapa indahnya, anak-anakku, disertai oleh Roh Kudus! Ia sungguh seorang Pembimbing yang luar biasa; dan bayangkan bahwa ada sebagian orang yang menolak bimbingan-Nya. Roh Kudus itu bagaikan seorang dengan kereta kuda yang hendak membawa kita pergi. Yang perlu kita lakukan hanyalah menjawab “ya”, dan naik ke dalam kereta. Sungguh, adalah hal yang mudah mengatakan “ya”!.... Nah, Roh Kudus hendak membawa kita ke surga; dan kita hanya perlu mengatakan “ya”, serta membiarkan-Nya membawa kita ke sana.

Roh Kudus itu bagaikan seorang tukang kebun yang mengolah jiwa kita…. Roh Kudus itu pelayan kita…. Tersedia senapan; baik, engkau mengisinya, tetapi haruslah ada orang yang menarik pelatuknya serta menembakkannya.... Demikian juga, dalam diri kita ada kekuatan untuk melakukan yang baik… ketika Roh Kudus mendorong kita, perbuatan-perbuatan baik dihasilkan. Roh kudus tinggal dalam jiwa orang-orang benar bagaikan merpati tinggal dalam sarangnya. Ia membangkitkan hasrat-hasrat baik dalam jiwa yang murni, bagaikan merpati menetaskan anak-anaknya. Roh Kudus membimbing kita seperti seorang ibu menggenggam tangan anaknya yang berumur dua tahun, bagaikan seorang yang dapat melihat membimbing seorang yang buta.

Turunnya Roh Kudus diperlukan, guna mendatangkan buah-buah rahmat yang berlimpah. Bagaikan sebutir gandum - kalian melemparkannya ke atas tanah; ya, tapi diperlukan matahari dan hujan agar membuatnya tumbuh dan menghasilkan buah. Patutlah setiap pagi kita berseru, “O Tuhan, utuslah Roh Kudus-Mu kepadaku untuk mengajarkan siapa aku dan siapa Engkau.”Sakramen-sakramen yang Tuhan tetapkan tidak akan dapat menyelamatkan kita tanpa Roh Kudus. Bahkan wafat Kristus tidak akan ada gunanya bagi kita tanpa Dia. Karenanya, Kristus mengatakan kepada para rasul-Nya,


sumber : “Catechism on The Holy Spirit by Saint John Vianney”; www.catholic-forum.com
“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan

MEMINTA DALAM NAMA YESUS

Yoh.16:23b-28;

Tanpa mengatakan bahwa apa yang kita lakukan selama ini keliru bahkan salah ketika kita selalu mengakhiri doa-doa kita dengan menyebut kalimat ini; “Dengan pengantaraan Kristus Tuhan kami,” atau “Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami,” dan beberapa rumusan semirip lainnya. Dan, tentunya harapan besar dibalik ini yakni “agar apa yang kita minta kepada Bapa dalam dan melalui Nama Yesus, diberikan kepada kita.” Banyak orang telah membuktikan bahwa permintaan dalam Nama Yesus selalu dikabulkan oleh Allah, namun tidak sedikit juga yang kecewa karena telah meminta dan memohon dalam nama yang sama tapi apa yang mereka minta belum dan bahkan tidak pernah didapatkan, padahal mereka telah percaya dengan sungguh-sungguh akan sabda Yesus hari ini “segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa dalam dan melalui Nama-Ku, akan diberikan kepadamu.”

Pertanyaan yang muncul dan menjadi titik permenungan kita di hari ini yakni; “Apa artinya meminta dalam dan melalui nama Yesus?” Kadang kita kecewa karena tidak mendapatkan apa yang kita inginkan, bukan karena Tuhan tidak mau memberikan apa yang kita mintakan tapi kita salah menafsirkan dan memaknai makna terdalam dari meminta sesuatu dalam dan melalui Nama Yesus. Kita selalu menyempitkan penafsiran kita pada yang satu ini, kalau kita meminta sesuatu dalam dan melalui Nama Yesus, maka Allah harus mengabulkannya. Namun ketika permohonan kita tidak dikabulkan maka bisa saja yang ini muncul dalam hati dan pikiran kita, entahkah Allah memang kikir atau kah Nama Yesus bukanlah jaminan di hadapan Allah. Seorang teman sekarang hilang harapan dan mulai meninggalkan iman katoliknya hanya karena ia merasa bahwa segala sesuatu yang dimintakan kepada Tuhan dalam nama Yesus tak pernah diberikan kepadanya. Sedangkan yang lain bersaksi bahwa ketika ia meminta sebagai orang katolik permintaannya tak pernah dikabulkan, akan tetapi ketika ia berpindah agama maka hampir semua permintaannya dikabulkan. Memang iblis tahu apa yang dapat memisahkan manusia dengan Allah. Sayangnya, banyak orang membiarkan hati dan pikirannya menjadi istana iblis untuk memuaskan keinginan duniawinya.

Meminta dalam dan melalui Nama Yesus bukan semata agar permohonan kita dikabulkan tapi lebih “agar Allah Bapa memberikan kepada kita sikap dan kepribadian, ketabahan dan kesetian Sang Putra, Yesus kepada kita.” Itulah alasannya mengapa dalam Injil kemarin Yesus mengatakan bahwa jika engkau telah memiliki Diri-Nya, maka tidak akan ada orang dapat mengambilnya dari padamu, kecuali kalau memang engkau sendiri mengizinkannya. Memiliki Yesus adalah alasan bagi kita untuk bergembira dan bersuka cita walaupun kadang harus kita temukan seperti biji manis durian dalam bungkusan kulit yang berduri (ingat renungan malam kemarin), karena Dialah jalan lurus menuju Bapa tanpa pakai koneksi atau agen atau calo-calo khusus.

Saya selalu yakin bahwa ucapan syukur adalah gerbang untuk mendapatkan rahmat yang baru, lebih daripada kecenderungan kita mengajari dan memberitahu Allah tentang apa yang kita inginkan dan butuhkan. Meminta dalam dan melalui nama Yesus berarti kita memohon agar Allah Bapa memberikan hati dan pikiran Yesus kepada kita, sehingga kita pun dengan bangga menyebut Allah sebagai Abba, Bapa seperti di taman Getzemani dan bukit Kalvari. Hanya mau mengingatkanmu bahwa baik di taman Getzemani maupun bukit Kalvari, Allah Bapa tidak memberikan sepatah kata pun kepada Yesus, Putra-Nya seperti pengalaman sungai Yordan dan gunung Tabor. Meskipun demikian, diam-Nya Bapa, adalah jawaban pasti bagi Sang Putra bahwa kemuliaan dan mahkota kemenangan sedang menantikan-Nya.

Dengan demikian, cobalah dalam doamu di hari-hari selanjutnya, janganlah meminta apa pun dari Allah walaupun engkau sendiri merasa sangat membutuhkannya. Cukup bersyukur dan berpasrah saja kepada-Nya, karena sesungguhnya, Allah tahu apa yang kamu butuhkan sebelum kamu memintanya dalam doa-doamu. Akhirnya, saya mau yakinkan saudara-saudari sekalian bahwa “diambang batas kemampuan kita untuk berharap, sebenarnya ada kasih yang siap menyapamu.” Itulah Yesus dengan kasih-Nya yang tak terbatas oleh ruang dan waktu.


Salam dan doa seorang sahabat untuk para sahabat,

***Duc in Altum***


sumber: catatan facebook fan page Gereja Katolik

Kamis, 12 Mei 2011

SEBATANG PENSIL (Cerita Ilustrasi)

2 Korintus 3:2
Kamu adalah surat pujian kami yang tertulis dalam hati kami dan yang dikenal dan yang dapat dibaca oleh semua orang.

Seorang pembuat pensil sebelum mengutus pensilnya ke dunia memberikan empat pesan. (1) Kamu bisa melakukan sesuatu yang luar biasa, tetapi hanya jika kamu mau berada di tangan seseorang. (2) Kamu akan menderita setiap kali kamu diruncingkan, tetapi kamu perlu itu untuk menjadi pensil yang baik. (3) Bagian yang terpenting dari hidupmu adalah bagian yang ada di dalam, bukan bagian luarnya. (4) Pada permukaan mana pun juga, selalu tinggalkan jejakmu dan teruslah menulis.

Ilustrasi di atas menyimpan kebenaran rohani yang luar biasa. Pertama, kita memiliki potensi yang luar biasa dan mampu melakukan hal yang besar. Hanya saja kalau kita membiarkan diri berada di tangan Tuhan. Kedua, ada kalanya kita akan mengalami proses-proses pengeratan dan peruncingan yang sangat menyakitkan. Itu membuat kita sangat menderita, tetapi mau tidak mau kita akan melewati proses itu demi kebaikan kita sendiri. Proses pengeratan kedagingan kita akan membuat karakter ilahi muncul dalam hidup kita. Ketiga, bagian yang terpenting dalam hidup kita adalah bagian yang ada di dalam. Jangan pernah terjebak dengan hal-hal yang hanya merupakan penampilan luar saja. Tuhan tidak pernah tergiur dengan topeng-topeng kita. Tuhan lebih melihat kedalaman hati kita. Keempat, di mana pun Tuhan taruh kita, selalu tinggalkan jejak atau “tulisan-tulisan” yang benar-benar bisa memengaruhi orang yang membacanya. Jadilah orang kristiani yang berpengaruh dan selalu meninggalkan kesan yang mendalam bagi setiap orang yang bertemu dengan kita. (Petrus Kwik/Renunganharian.net)

Sudahkah kita menjadi seperti pensil yang mau menjalani proses pengeratan sehingga bisa digunakan dan berdampak?

Taat Bukan Soal Kecil

Lukas 6:49
Akan tetapi barangsiapa mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah di atas tanah tanpa dasar. Ketika banjir melandanya, rumah itu segera rubuh dan hebatlah kerusakannya.

Ketaatan adalah hal yang mutlak harus dimiliki oleh setiap anak Tuhan. Ketaatan akan firman Tuhan merupakan kunci kesuksesan sejati dan membawa setiap kita untuk menemukan harta kerajaan surga yang tak ternilai. Dalam ketaatan tersedia berkat Tuhan dan ketidaktaatan mendatangkan kutuk. Pilihan ada di tangan Anda.

Banyak orang yang bermimpi dipakai Tuhan secara besar, menjadi penginjil terkenal, pengkhotbah handal, misionaris ke luar negeri, yang sepertinya menggambarkan ketaatan dan penyerahan hidup secara total kepada Tuhan. Tapi berapa banyak orang yang lalai untuk meminta maaf ketika ia menyakiti perasaan temannya, mengabaikan dorongan hati untuk tersenyum kepada seorang pengemis di pinggir jalan dan berkata bahwa Tuhan mengasihinya, atau pun memaafkan seorang teman yang bercanda secara keterlaluan sehingga perkataannya menyakiti hati, namun tetap bermimpi untuk dipakai Tuhan secara luar biasa?

Perbuatan itu mungkin bukan soal besar dan tampaknya hanya soal kecil. Tetapi percayalah, ketidakpatuhan kecil itu akan mengeringkan aliran Roh Kudus seperti ketidakpatuhan yang besar. Kebanyakan dari kita tidak menyadari hal ini sampai akhirnya kita mendapati diri kita kering secara rohani.

Jika Anda sedang mengalami hal ini, bertobatlah dan lakukan kembali hal kecil yang Anda abaikan itu. Taatilah perintah Tuhan yang Anda terima. Dan mulai sekarang ingatlah, betapa pun remehnya perintah Tuhan yang Anda terima, mentaati hal itu bukanlah soal kecil! Justru tindakan-tindakan kepatuhan yang sederhana itulah yang membuat rumah rohani Anda tetap tegak berdiri atau roboh.

Tidak ada ukuran ketaatan kecil atau besar. Mentaati perintah Tuhan yang sederhana adalah sebuah hal yang besar!

Mukjizat Lima Roti dan Dua Ikan

Amsal 11:25
Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum.

Hal luar biasa dari cerita Yesus memberi makan lima ribu orang adalah bagaimana mukjizat itu dibuat. Tuhan dapat menggunakan berbagai cara yang Ia mau. Bisa saja dengan hujan roti dari sorga. Tetapi Dia melakukannya dengan cara alami. Hal ajaib yang dilakukan dengan cara yang alamiah.

Yesus meminta murid-muridnya untuk meminta mereka yang mengikut Dia menjadi kelompok-kelompok 50 dan 100 orang. Kemudian Alkitab mengatakan kepada kita, “Dan setelah Ia mengambil lima roti dan dua ikan itu, Ia menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, supaya dibagi-bagikan kepada orang-orang itu; begitu juga kedua ikan itu dibagi-bagikan-Nya kepada semua mereka.” (Markus 6:41). Para murid terus membagikan makanan dan makanan itu terus bertambah ketika mereka membagikannya.

Yesus berkata, “Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.” (Lukas 6:38). Tuhan akan memberkati setiap kemurahan hati. Amsal 11:25 menasihatkan, “Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum.”

Ketika kita memberi, Tuhan akan memberkati kita. Ketika kita menyalurkan berkat yang kita terima, Tuhan akan memberi kita lebih banyak lagi. Matius 14:20 menggambarkan dengan lebih lengkap tentang peristiwa memberi makan lima ribu orang ini, “Dan mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, dua belas bakul penuh.” Tuhan memberi mereka lebih dari yang mereka butuhkan. Hal ini mengingatkan kita untuk melayani Tuhan dengan murah hati.

Apakah Anda bersedia menyalurkan berkat Tuhan yang telah Anda terima? Atau Anda mencoba menahan semuanya untuk diri Anda sendiri? Seperti murid-murid yang membagikan makanan dan dilipat gandakan, yang akhirnya membuat semua orang diberkati. Tuhan pun memberikan sesuatu dalam hidup kita. Jika kita bersedia membagikan apa yang kita miliki, maka Tuhan akan memberkati kita lebih banyak lagi, dan Tuhan akan dimuliakan.

Ketika Anda memberi dengan murah hati, pelipat gandaan sedang terjad

Rabu, 27 April 2011

Ketika Tangan Tuhan Menciptakan Seorang Wanita

Ketika Tuhan menciptakan wanita, malaikat datang dan bertanya, "Mengapa kau begitu lama menciptakan wanita Tuhan? "

Tuhan menjawab, "Sudahkah engkau melihat setiap detail yang saya ciptakan untuk wanita?"

"Dua tangannya mampu menjaga banyak anak pada saat bersamaan, punya pelukan yang dapat menyembuhkan sakit hati dan keterpurukan, dan semua itu hanya dengan dua tangan".

Malaikat menjawab dan takjub, "Hanya dengan 2 tangan? Tidak mungkin!”

Tuhan menjawab, "Tidakkah kau tau, dia juga mampu menyembuhkan dirinya sendiri dan bisa bekerja 18 jam sehari.”

Malaikat mendekat dan mengamati wanita tersebut, dan bertanya, " Tuhan, kenapa wanita terlihat begitu lelah dan rapuh? seolah-olah terlalu banyak beban baginya...."

Tuhan menjawab "Itu tidak seperti yang kau bayangkan, itu adalah air mata...."
"Untuk apa ?" tanya malaikat.

Tuhan melanjutkan, "Air mata adalah salah satu cara dia mengekspresikan kegembiraan, kegalauan, cinta, kesepian, penderitaan, dan kebanggaan.... serta wanita ini mempunyai kekuatan mempesona laki-laki...ini hanya beberapa kemampuan yang dimiliki wanita."

"Dia dapat mengatasi beban lebih dari laki-laki, dia mampu menyimpan kebahagiaan dan pendapatnya sendiri....."

"Dia mampu tersenyum saat hatinya menjerit, mampu menyanyi saat menangis, menangis saat terharu, bahkan tertawa saat ketakutan.."

"Dia berkorban demi orang yang dicintainya.."

"Dia mampu berdiri melawan ketidakadilan."

"Dia menangis saat melihat anaknya adalah pemenang...."

"Dia girang dan bersorak saat kawannya tertawa bahagia..."

"Dia begitu bahagia mendengar suara kelahiran...."

"Dia begitu bersedih mendengar berita kesakitan dan kematian, tapi dia mampu mengatasinya... Dia tau bahwa sebuah ciuman dan pelukan dapat menyembuhkan luka...."

"Cintanya tanpa syarat.."

”Hanya ada satu yang kurang dari wanita, dia sering lupa betapa berharga dirinya..”

Wanita, Anda berharga dan mulia di hadapan Tuhan. Dalam kerapuhan dan kelemahanmu, Tuhan menaruh suatu kekuatan yang tidak dimiliki oleh para laki-laki. Gunakan kekuatan yang Tuhan berikan itu untuk menolong dan memberkati para laki-laki dihidupmu.

Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau, maka Aku memberikan manusia sebagai gantimu, dan bangsa-bangsa sebagai ganti nyawamu. ~ Yesaya 43:4.

Selasa, 26 April 2011

Alasan Mengapa Tanggal untuk Paskah Berbeda-Beda

Jumat Agung adalah hari Jumat sebelum Paskah, yang perhitungan tanggalnya berbeda antara Gereja Timur dan Gereja Barat dan ini juga berarti Paskah pun dirayakan pada tanggal yang berbeda-beda. Perhitungan tanggal ini dinamakan dengan computus yang berarti ‘komputasi’ atau ‘perhitungan’. Nama prosedur ini telah dipakai sejak Abad Pertengahan di Eropa dan merupakan salah satu cara penghitungan kalender terpenting. Rumus utamanya adalah hari Paskah jatuh pada hari Minggu pertama setelah hari keempat belas pada bulan kamariyah (bulan pertama) yang jatuh pada atau setelah 21 Maret (yaitu tanggal titik Musim Semi Matahari gerejawi).

Perbedaan pada Gereja Timur dan Gereja Barat adalah Gereja Ortodoks Timur menggunakan tanggal 21 Maret menurut Kalender Julian, sedangkan Gereja Katolik Roma menggunakan tanggal 21 Maret menurut Kalender Gregorian yang lebih modern dan lebih luas pemakaiannya. Dengan demikian, bulan purnama gereja timur biasanya jatuh 4-5 hari setelah bulan purnama gereja barat.

Karena itu, Paskah di Gereja Barat dapat jatuh antara tanggal 22 Maret sampai 25 April, maka Jumat Agung jatuh antara tanggal 19 Maret sampai 22 April. Di gereja timur, Paskah jatuh antara 22 Maret sampai 25 April menurut kalender Julian (tapi menurut kalender Gregorian berarti tanggal 4 April sampai 8 Mei) dan Jumat Agung dapat jatuh antara 19 Maret dan 22 April (atau antara 1 April sampai 5 Mei menurut kalender Gregorian).

Untuk Paskah secara internasional, digunakan penanggalan secara Gregorian, penanggalan yang lebih populer dibandingkan penanggalan Julian. Untuk memperhitungkan tanggal perayaan Paskah, gereja Kristen menggunakan hari bulan purnama ‘gerejawi’ baik Julian maupun Gregorian tersebut, bukan bulan purnama astronomi. Perbedaan inilah yang menyebabkan kenapa Jumat Agung dan Paskah dirayakan pada tanggal yang berbeda-beda dalam kalender astronomi yang dipakai secara umum.

Jadi, jangan bingung atau penasaran lagi kenapa perayaan Paskah bisa berbeda-beda tanggalnya, padahal Yesus bangkit di hanya dalam satu hari tertentu. Hal ini hanya karena pengaturan gereja semata. Baik bagi kita untuk mengenal segala sesuatu yang berhubungan dengan iman yang kita pegang, seperti pengetahuan tentang Paskah ini. Tapi yang paling penting tentu saja kita perlu mengenal Pribadi yang kita sembah dengan lebih baik lagi setiap harinya.


Source : wikipedia/lh3