Sabtu, 04 Juni 2011

Katekese tentang Roh Kudus oleh St. Yohanes Maria Vianney

O, anak-anakku, betapa mengagumkan! Allah Bapa adalah Pencipta kita, Allah Putra adalah Penebus kita, dan Allah Roh Kudus adalah Pembimbing kita…. Manusia dari dirinya sendiri bukan apa-apa, tetapi dengan Roh Kudus ia sungguh mengagumkan. Manusia sepenuhnya adalah duniawi dan hewani; tak ada selain dari Roh Kudus yang dapat mengangkat pikirannya dan menaikkannya hingga tinggi. Mengapa para kudus begitu melepaskan diri dari keterikatan dunia? Sebab mereka membiarkan diri dibimbing oleh Roh Kudus. Mereka yang dibimbing oleh Roh Kudus memiliki pemikiran-pemikiran yang benar; itulah sebabnya mengapa begitu banyak orang bodoh lebih bijaksana daripada mereka yang terpelajar. Jika kita dibimbing oleh Tuhan kekuatan dan terang, kita tidak akan tersesat.

Roh Kudus adalah terang dan kekuatan. Ia mengajarkan kepada kita bagaimana membedakan kebenaran dan kepalsuan, yang baik dan yang jahat. Seperti kaca pembesar memperbesar apa yang dilihatnya, Roh Kudus menunjukkan kepada kita yang baik dan yang jahat dalam skala besar. Dengan Roh Kudus kita melihat segala sesuatu dalam proporsinya yang benar; kita melihat kebesaran dari tindakan dan perbuatan terkecil yang dilakukan bagi Tuhan, dan kebesaran dari kesalahan-kesalahan terkecil. Bagai seorang pembuat jam dengan kacanya membedakan roda-roda jam yang paling kecil, demikian juga kita, dengan terang Roh kudus, membedakan segala detil-detil dari kehidupan kita yang malang. Kemudian, kelemahan terkecil akan tampak sangat besar, dan dosa terremeh menjadikan kita ngeri. Itulah sebabnya mengapa Perawan Tersuci tidak pernah berdosa. Roh Kudus memberinya pengertian akan kengerian dosa; ia jijik dan ngeri bahkan pada kesalahan terkecil sekali pun.
Mereka yang memiliki Roh Kudus tidak tahan akan dirinya sendiri, begitu baik mereka mengenali kemalangan mereka yang menyedihkan. Orang-orang sombong adalah mereka yang tidak memiliki Roh Kudus.

Orang-orang duniawi tidak memiliki Roh Kudus, atau jika mereka memiliki-Nya, hanyalah untuk sesaat saja. Roh Kudus tidak tinggal dalam mereka; hiruk-pikuk dunia mengusir-Nya pergi. Seorang Kristen yang dibimbing oleh Roh Kudus tidak sulit meninggalkan kesenangan-kesenangan duniawi guna mengejar kesenangan-kesenangan surgawi; ia tahu perbedaan antara keduanya. Mata dunia tidak dapat melihat lebih jauh dari kehidupan sekarang, seperti mata kita tidak dapat melihat dinding ini apabila pintu gereja ditutup. Mata seorang Kristen melihat jauh ke dalam keabadian. Bagi dia yang menyerahkan dirinya dalam bimbingan Roh kudus, tampaknya tak ada dunia; sebab di dunia tampaknya tidak ada Tuhan…. Oleh sebab itu, patutlah kita menemukan siapakah yang membimbing kita. Jika kita dibimbing bukan oleh Roh Kudus, usaha kita akan sia-sia belaka; tidak ada arti atau keselamatan dalam segala hal yang kita lakukan. Jika kita dibimbing oleh Roh Kudus, kita mencicipi kemanisan yang nikmat … yang cukup membuat kita mati karena bahagia!

Mereka yang dibimbing oleh Roh Kudus mengalami segala macam kebahagiaan dalam dirinya, sementara orang-orang Kristen yang tidak taat berguling-guling dalam duri dan api. Jiwa di mana Roh Kudus tinggal tak akan pernah bosan dalam kehadiran Allah; hatinya memancarkan napas kasih. Tanpa Roh Kudus, kita bagaikan batu-batu di jalan…. Genggam dalam tanganmu satu sepon penuh air dan dalam tanganmu yang lain beberapa kerikil; kemudian peras keduanya. Tak ada yang keluar dari kerikil-kerikil itu, tetapi dari sepon akan keluar banyak air. Sepon itu bagaikan jiwa yang dipenuhi Roh Kudus, dan batu itu bagaikan jiwa yang dingin membatu di mana Roh Kudus tidak dapat tinggal.

Jiwa yang dirasuki Roh Kudus menikmati kemanisan doa, hingga ia mendapati waktu selalu terlalu singkat; jiwa tidak pernah kehilangan kehadiran Allah. Jiwa yang demikian, di hadapan Juruselamat kita yang baik dalam Sakramen Kudus di Altar, bagaikan anggur-anggur ranum di bawah alat peras. Roh Kudus membentuk pikiran dan mengilhami kata-kata dalam hati orang-orang benar …. Mereka yang memiliki Roh Kudus tidak melakukan yang jahat; segala buah-buah Roh Kudus baik adanya. Tanpa Roh Kudus segalanya dingin; karenanya, apabila kita merasa kehilangan semangat doa, haruslah kita bergegas mendaraskan novena kepada Roh Kudus mohon iman dan cinta…. Lihat, apabila kita selesai melakukan retret, kita dipenuhi hasrat-hasrat baik: hasrat-hasrat baik ini adalah napas Roh Kudus, yang mengunjungi jiwa-jiwa kita, dan memperbaharui segala sesuatu, seperti angin sepoi-sepoi yang melelehkan es dan membawa kembali musim semi …. Kalian yang bukan para kudus yang hebat, kalian masih punya banyak waktu untuk menikmati kemanisan doa dan kehadiran Allah: inilah kunjungan-kunjungan Roh Kudus. Jika kita memiliki Roh Kudus, hati kita berkembang - bermandikan kasih ilahi. Seekor ikan tidak pernah mengeluh karena terlalu banyak air, demikian juga seorang Kristen yang baik tidak pernah mengeluh karena melewatkan terlalu banyak waktu dengan Allah yang baik. Sebagian orang menganggap agama itu menjemukan, dan itu karena mereka tidak memiliki Roh Kudus dalam diri mereka.

Jika jiwa-jiwa terkutuk itu ditanya: Mengapa kalian berada di neraka? mereka akan menjawab: karena kami menolak Roh Kudus. Dan apabila para kudus ditanya: Mengapa kalian berada di surga? mereka akan menjawab: karena kami mendengarkan bimbingan Roh Kudus. Jika pemikiran-pemikiran yang baik terlintas di benak kita, itulah Roh Kudus yang mengunjungi kita. Roh Kudus adalah kekuatan. Roh Kudus yang menopang St. Simeon di tiang penyiksaan; Ia yang menopang para martir. Tanpa Roh Kudus, para martir pastilah jatuh berguguran bagai daun-daun berguguran dari pohonnya. Ketika api dinyalakan atas mereka, Roh Kudus memadamkan panas kobaran api dengan kobaran cinta ilahi. Allah yang baik, ketika mengutus Roh Kudus-Nya kepada kita, berlaku bagaikan seorang raja agung yang hendak mengirimkan utusannya untuk membimbing salah satu orangnya, dengan mengatakan, “Engkau akan menemani orang ini ke mana pun ia pergi, dan engkau akan membawanya kembali kepadaku dalam keadaan selamat tanpa kekurangan suatu apa pun.” Betapa indahnya, anak-anakku, disertai oleh Roh Kudus! Ia sungguh seorang Pembimbing yang luar biasa; dan bayangkan bahwa ada sebagian orang yang menolak bimbingan-Nya. Roh Kudus itu bagaikan seorang dengan kereta kuda yang hendak membawa kita pergi. Yang perlu kita lakukan hanyalah menjawab “ya”, dan naik ke dalam kereta. Sungguh, adalah hal yang mudah mengatakan “ya”!.... Nah, Roh Kudus hendak membawa kita ke surga; dan kita hanya perlu mengatakan “ya”, serta membiarkan-Nya membawa kita ke sana.

Roh Kudus itu bagaikan seorang tukang kebun yang mengolah jiwa kita…. Roh Kudus itu pelayan kita…. Tersedia senapan; baik, engkau mengisinya, tetapi haruslah ada orang yang menarik pelatuknya serta menembakkannya.... Demikian juga, dalam diri kita ada kekuatan untuk melakukan yang baik… ketika Roh Kudus mendorong kita, perbuatan-perbuatan baik dihasilkan. Roh kudus tinggal dalam jiwa orang-orang benar bagaikan merpati tinggal dalam sarangnya. Ia membangkitkan hasrat-hasrat baik dalam jiwa yang murni, bagaikan merpati menetaskan anak-anaknya. Roh Kudus membimbing kita seperti seorang ibu menggenggam tangan anaknya yang berumur dua tahun, bagaikan seorang yang dapat melihat membimbing seorang yang buta.

Turunnya Roh Kudus diperlukan, guna mendatangkan buah-buah rahmat yang berlimpah. Bagaikan sebutir gandum - kalian melemparkannya ke atas tanah; ya, tapi diperlukan matahari dan hujan agar membuatnya tumbuh dan menghasilkan buah. Patutlah setiap pagi kita berseru, “O Tuhan, utuslah Roh Kudus-Mu kepadaku untuk mengajarkan siapa aku dan siapa Engkau.”Sakramen-sakramen yang Tuhan tetapkan tidak akan dapat menyelamatkan kita tanpa Roh Kudus. Bahkan wafat Kristus tidak akan ada gunanya bagi kita tanpa Dia. Karenanya, Kristus mengatakan kepada para rasul-Nya,


sumber : “Catechism on The Holy Spirit by Saint John Vianney”; www.catholic-forum.com
“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan

MEMINTA DALAM NAMA YESUS

Yoh.16:23b-28;

Tanpa mengatakan bahwa apa yang kita lakukan selama ini keliru bahkan salah ketika kita selalu mengakhiri doa-doa kita dengan menyebut kalimat ini; “Dengan pengantaraan Kristus Tuhan kami,” atau “Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami,” dan beberapa rumusan semirip lainnya. Dan, tentunya harapan besar dibalik ini yakni “agar apa yang kita minta kepada Bapa dalam dan melalui Nama Yesus, diberikan kepada kita.” Banyak orang telah membuktikan bahwa permintaan dalam Nama Yesus selalu dikabulkan oleh Allah, namun tidak sedikit juga yang kecewa karena telah meminta dan memohon dalam nama yang sama tapi apa yang mereka minta belum dan bahkan tidak pernah didapatkan, padahal mereka telah percaya dengan sungguh-sungguh akan sabda Yesus hari ini “segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa dalam dan melalui Nama-Ku, akan diberikan kepadamu.”

Pertanyaan yang muncul dan menjadi titik permenungan kita di hari ini yakni; “Apa artinya meminta dalam dan melalui nama Yesus?” Kadang kita kecewa karena tidak mendapatkan apa yang kita inginkan, bukan karena Tuhan tidak mau memberikan apa yang kita mintakan tapi kita salah menafsirkan dan memaknai makna terdalam dari meminta sesuatu dalam dan melalui Nama Yesus. Kita selalu menyempitkan penafsiran kita pada yang satu ini, kalau kita meminta sesuatu dalam dan melalui Nama Yesus, maka Allah harus mengabulkannya. Namun ketika permohonan kita tidak dikabulkan maka bisa saja yang ini muncul dalam hati dan pikiran kita, entahkah Allah memang kikir atau kah Nama Yesus bukanlah jaminan di hadapan Allah. Seorang teman sekarang hilang harapan dan mulai meninggalkan iman katoliknya hanya karena ia merasa bahwa segala sesuatu yang dimintakan kepada Tuhan dalam nama Yesus tak pernah diberikan kepadanya. Sedangkan yang lain bersaksi bahwa ketika ia meminta sebagai orang katolik permintaannya tak pernah dikabulkan, akan tetapi ketika ia berpindah agama maka hampir semua permintaannya dikabulkan. Memang iblis tahu apa yang dapat memisahkan manusia dengan Allah. Sayangnya, banyak orang membiarkan hati dan pikirannya menjadi istana iblis untuk memuaskan keinginan duniawinya.

Meminta dalam dan melalui Nama Yesus bukan semata agar permohonan kita dikabulkan tapi lebih “agar Allah Bapa memberikan kepada kita sikap dan kepribadian, ketabahan dan kesetian Sang Putra, Yesus kepada kita.” Itulah alasannya mengapa dalam Injil kemarin Yesus mengatakan bahwa jika engkau telah memiliki Diri-Nya, maka tidak akan ada orang dapat mengambilnya dari padamu, kecuali kalau memang engkau sendiri mengizinkannya. Memiliki Yesus adalah alasan bagi kita untuk bergembira dan bersuka cita walaupun kadang harus kita temukan seperti biji manis durian dalam bungkusan kulit yang berduri (ingat renungan malam kemarin), karena Dialah jalan lurus menuju Bapa tanpa pakai koneksi atau agen atau calo-calo khusus.

Saya selalu yakin bahwa ucapan syukur adalah gerbang untuk mendapatkan rahmat yang baru, lebih daripada kecenderungan kita mengajari dan memberitahu Allah tentang apa yang kita inginkan dan butuhkan. Meminta dalam dan melalui nama Yesus berarti kita memohon agar Allah Bapa memberikan hati dan pikiran Yesus kepada kita, sehingga kita pun dengan bangga menyebut Allah sebagai Abba, Bapa seperti di taman Getzemani dan bukit Kalvari. Hanya mau mengingatkanmu bahwa baik di taman Getzemani maupun bukit Kalvari, Allah Bapa tidak memberikan sepatah kata pun kepada Yesus, Putra-Nya seperti pengalaman sungai Yordan dan gunung Tabor. Meskipun demikian, diam-Nya Bapa, adalah jawaban pasti bagi Sang Putra bahwa kemuliaan dan mahkota kemenangan sedang menantikan-Nya.

Dengan demikian, cobalah dalam doamu di hari-hari selanjutnya, janganlah meminta apa pun dari Allah walaupun engkau sendiri merasa sangat membutuhkannya. Cukup bersyukur dan berpasrah saja kepada-Nya, karena sesungguhnya, Allah tahu apa yang kamu butuhkan sebelum kamu memintanya dalam doa-doamu. Akhirnya, saya mau yakinkan saudara-saudari sekalian bahwa “diambang batas kemampuan kita untuk berharap, sebenarnya ada kasih yang siap menyapamu.” Itulah Yesus dengan kasih-Nya yang tak terbatas oleh ruang dan waktu.


Salam dan doa seorang sahabat untuk para sahabat,

***Duc in Altum***


sumber: catatan facebook fan page Gereja Katolik