Ketika Tuhan menciptakan wanita, malaikat datang dan bertanya, "Mengapa kau begitu lama menciptakan wanita Tuhan? "
Tuhan menjawab, "Sudahkah engkau melihat setiap detail yang saya ciptakan untuk wanita?"
"Dua tangannya mampu menjaga banyak anak pada saat bersamaan, punya pelukan yang dapat menyembuhkan sakit hati dan keterpurukan, dan semua itu hanya dengan dua tangan".
Malaikat menjawab dan takjub, "Hanya dengan 2 tangan? Tidak mungkin!”
Tuhan menjawab, "Tidakkah kau tau, dia juga mampu menyembuhkan dirinya sendiri dan bisa bekerja 18 jam sehari.”
Malaikat mendekat dan mengamati wanita tersebut, dan bertanya, " Tuhan, kenapa wanita terlihat begitu lelah dan rapuh? seolah-olah terlalu banyak beban baginya...."
Tuhan menjawab "Itu tidak seperti yang kau bayangkan, itu adalah air mata...."
"Untuk apa ?" tanya malaikat.
Tuhan melanjutkan, "Air mata adalah salah satu cara dia mengekspresikan kegembiraan, kegalauan, cinta, kesepian, penderitaan, dan kebanggaan.... serta wanita ini mempunyai kekuatan mempesona laki-laki...ini hanya beberapa kemampuan yang dimiliki wanita."
"Dia dapat mengatasi beban lebih dari laki-laki, dia mampu menyimpan kebahagiaan dan pendapatnya sendiri....."
"Dia mampu tersenyum saat hatinya menjerit, mampu menyanyi saat menangis, menangis saat terharu, bahkan tertawa saat ketakutan.."
"Dia berkorban demi orang yang dicintainya.."
"Dia mampu berdiri melawan ketidakadilan."
"Dia menangis saat melihat anaknya adalah pemenang...."
"Dia girang dan bersorak saat kawannya tertawa bahagia..."
"Dia begitu bahagia mendengar suara kelahiran...."
"Dia begitu bersedih mendengar berita kesakitan dan kematian, tapi dia mampu mengatasinya... Dia tau bahwa sebuah ciuman dan pelukan dapat menyembuhkan luka...."
"Cintanya tanpa syarat.."
”Hanya ada satu yang kurang dari wanita, dia sering lupa betapa berharga dirinya..”
Wanita, Anda berharga dan mulia di hadapan Tuhan. Dalam kerapuhan dan kelemahanmu, Tuhan menaruh suatu kekuatan yang tidak dimiliki oleh para laki-laki. Gunakan kekuatan yang Tuhan berikan itu untuk menolong dan memberkati para laki-laki dihidupmu.
Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau, maka Aku memberikan manusia sebagai gantimu, dan bangsa-bangsa sebagai ganti nyawamu. ~ Yesaya 43:4.
Rabu, 27 April 2011
Selasa, 26 April 2011
Alasan Mengapa Tanggal untuk Paskah Berbeda-Beda
Jumat Agung adalah hari Jumat sebelum Paskah, yang perhitungan tanggalnya berbeda antara Gereja Timur dan Gereja Barat dan ini juga berarti Paskah pun dirayakan pada tanggal yang berbeda-beda. Perhitungan tanggal ini dinamakan dengan computus yang berarti ‘komputasi’ atau ‘perhitungan’. Nama prosedur ini telah dipakai sejak Abad Pertengahan di Eropa dan merupakan salah satu cara penghitungan kalender terpenting. Rumus utamanya adalah hari Paskah jatuh pada hari Minggu pertama setelah hari keempat belas pada bulan kamariyah (bulan pertama) yang jatuh pada atau setelah 21 Maret (yaitu tanggal titik Musim Semi Matahari gerejawi).
Perbedaan pada Gereja Timur dan Gereja Barat adalah Gereja Ortodoks Timur menggunakan tanggal 21 Maret menurut Kalender Julian, sedangkan Gereja Katolik Roma menggunakan tanggal 21 Maret menurut Kalender Gregorian yang lebih modern dan lebih luas pemakaiannya. Dengan demikian, bulan purnama gereja timur biasanya jatuh 4-5 hari setelah bulan purnama gereja barat.
Karena itu, Paskah di Gereja Barat dapat jatuh antara tanggal 22 Maret sampai 25 April, maka Jumat Agung jatuh antara tanggal 19 Maret sampai 22 April. Di gereja timur, Paskah jatuh antara 22 Maret sampai 25 April menurut kalender Julian (tapi menurut kalender Gregorian berarti tanggal 4 April sampai 8 Mei) dan Jumat Agung dapat jatuh antara 19 Maret dan 22 April (atau antara 1 April sampai 5 Mei menurut kalender Gregorian).
Untuk Paskah secara internasional, digunakan penanggalan secara Gregorian, penanggalan yang lebih populer dibandingkan penanggalan Julian. Untuk memperhitungkan tanggal perayaan Paskah, gereja Kristen menggunakan hari bulan purnama ‘gerejawi’ baik Julian maupun Gregorian tersebut, bukan bulan purnama astronomi. Perbedaan inilah yang menyebabkan kenapa Jumat Agung dan Paskah dirayakan pada tanggal yang berbeda-beda dalam kalender astronomi yang dipakai secara umum.
Jadi, jangan bingung atau penasaran lagi kenapa perayaan Paskah bisa berbeda-beda tanggalnya, padahal Yesus bangkit di hanya dalam satu hari tertentu. Hal ini hanya karena pengaturan gereja semata. Baik bagi kita untuk mengenal segala sesuatu yang berhubungan dengan iman yang kita pegang, seperti pengetahuan tentang Paskah ini. Tapi yang paling penting tentu saja kita perlu mengenal Pribadi yang kita sembah dengan lebih baik lagi setiap harinya.
Source : wikipedia/lh3
Perbedaan pada Gereja Timur dan Gereja Barat adalah Gereja Ortodoks Timur menggunakan tanggal 21 Maret menurut Kalender Julian, sedangkan Gereja Katolik Roma menggunakan tanggal 21 Maret menurut Kalender Gregorian yang lebih modern dan lebih luas pemakaiannya. Dengan demikian, bulan purnama gereja timur biasanya jatuh 4-5 hari setelah bulan purnama gereja barat.
Karena itu, Paskah di Gereja Barat dapat jatuh antara tanggal 22 Maret sampai 25 April, maka Jumat Agung jatuh antara tanggal 19 Maret sampai 22 April. Di gereja timur, Paskah jatuh antara 22 Maret sampai 25 April menurut kalender Julian (tapi menurut kalender Gregorian berarti tanggal 4 April sampai 8 Mei) dan Jumat Agung dapat jatuh antara 19 Maret dan 22 April (atau antara 1 April sampai 5 Mei menurut kalender Gregorian).
Untuk Paskah secara internasional, digunakan penanggalan secara Gregorian, penanggalan yang lebih populer dibandingkan penanggalan Julian. Untuk memperhitungkan tanggal perayaan Paskah, gereja Kristen menggunakan hari bulan purnama ‘gerejawi’ baik Julian maupun Gregorian tersebut, bukan bulan purnama astronomi. Perbedaan inilah yang menyebabkan kenapa Jumat Agung dan Paskah dirayakan pada tanggal yang berbeda-beda dalam kalender astronomi yang dipakai secara umum.
Jadi, jangan bingung atau penasaran lagi kenapa perayaan Paskah bisa berbeda-beda tanggalnya, padahal Yesus bangkit di hanya dalam satu hari tertentu. Hal ini hanya karena pengaturan gereja semata. Baik bagi kita untuk mengenal segala sesuatu yang berhubungan dengan iman yang kita pegang, seperti pengetahuan tentang Paskah ini. Tapi yang paling penting tentu saja kita perlu mengenal Pribadi yang kita sembah dengan lebih baik lagi setiap harinya.
Source : wikipedia/lh3
Jangan Kuatir... Kristus Telah Bangkit!
Pada hari Yesus disalibkan, kekelaman menutupi matahari dan membungkus Yerusalem dalam kegelapan yang jahat. Seolah-olah setiap orang bisa melihat dengan mata kepala sendiri bahwa kegelapan, iblis dan maut telah mengalahkan Anak Allah untuk selamanya.
Perlu saya akui bahwa 3D (darkness, devil, death) itu melandasi hampir semua kekuatiran yang saya alami. Saya menguatirkan death [maut]—terutama kematian orang-orang yang saya kasihi. Saya kuatir pada darkness [kegelapan], baik yang alamiah maupun yang rohaniah. Saya juga kuatir pada hal-hal yang akan dilakukan oleh devil [iblis].
Iblis, kegelapan dan maut... ketiganya bekerja dengan giat di sepanjang pelayanan Yesus yang berpuncak pada hari yang panjang dan menyengsarakan itu. Namun, hal yang luput dari pengamatan orang-orang adalah bahwa kematian Mesias itu justru menghunjam jantung sang iblis.
Tiga hari setelah Yesus dibaringkan dalam kubur, pada Minggu pagi, Maria Magdalena dan beberapa perempuan yang lain pergi kekuburan. Saat mendekati kuburan tersebut, mereka dapati bahwa batu besar penutup pintu kuburan telah tersingkir. Maria Magdalena segera lari memberitahukan Petrus dan Yohanes, "Tuhan telah diambil orang dari kuburnya dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan." (Yohanes 20:2).
Saat Maria Magdalena pergi, salah satu dari perempuan yang tinggal itu mendekati kuburan. Lubang pintu kuburan itu terbuka. Bagian dalam kuburan itu sendiri tetap seperti sedia kala, hanya saja sudah kosong. Tidak ada jenazah di sana. Mereka terheran sesaat, sampai kemudian menyadari keberadaan dua malaikat di belakang mereka. Yang satu duduk di atas batu sedangkan yang seorang lagi berdiri di dekatnya. "Mengapa kamu mencari Dia yang hidup, di antara orang mati? Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit. Ingatlah apa yang dikatakan-Nya kepada kamu, ketika Ia masih di Galilea." (Lukas 24:5-6).
Saat mereka berlari dari kuburan itu, mereka bertemu seseorang yang meredakan ketakutan mereka. "Tiba-tiba Yesus berjumpa dengan mereka dan berkata: 'Salam bagimu.' ... 'Jangan takut. Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudara-Ku, supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku.'" (Matius 28:9-10).
Saat para perempuan itu menceritakan apa yang telah terjadi, para murid menganggap itu hanya omongan orang gila, celotehan tanpa arti. Sementara itu, Maria Magdalena menemui Petrus dan Yohanes. Pada awalnya, mereka juga mengabaikan ceritanya, namun rasa ingin tahu akhirnya mendorong mereka untuk lari ke kuburan.
Saat Yohanes tiba, dia berhenti di pintu masuk dan melihat ke dalam. Petrus berlari masuk ke dalam dan dikejutkan dengan apa yang dilihatnya. Saat masuk bersama Petrus ke dalam kuburan, saya senang membayangkan bahwa Yohanes berbisik kepada Petrus, "Dia hidup!"
Saat berita itu tersebar, banyak murid lalu berkumpul di sebuah rumah di Yerusalem. Dalam keadaan pintu rumah itu terkunci, tiba-tiba terdengar suara di tengah ruangan, "'Damai sejahtera bagi kamu!' Dan sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka." (Yohanes 20:19-20). Lalu mereka percaya.
Sayangnya, Tomas—salah satu dari kedua belas murid—saat itu tidak berada di sana. Saat dia tiba, semua orang bercerita kepadanya tentang kejadian tersebut. Tomas tidak mau percaya. "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya." (Yohanes 20:25).
Delapan hari kemudian, ketika Tomas sedang berada di rumah itu, dengan pintu yang terkunci lebih rapat dari sebelumya, "Damai sejahtera bagi kamu!" (Yohanes 20:26). Yesus kembali berdiri di tengah ruangan, "Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah." (Yohanes 20:27). Tomas tidak bergerak. Dia bahkan tidak mengangkat satu jari pun. Dia menjawab seperti lazimnya seorang murid Yesus mampu menjawab, "Ya Tuhanku dan Allahku!" (Yohanes 20:28).
Tanggapan orang-orang yang akrab dengan Yesus, pada Minggu pagi itu, sama dengan reaksi yang saya temui setiap hari sebagai seorang pemberita kabar baik di zaman modern ini.
Ada yang langsung percaya. Mereka menerima informasi tersebut, mengingat lagi akan hal-hal yang telah dinubuatkan oleh Yesus selama pelayanannya, dan menerima kebangkitan-nya sebagai hal yang benar-benar terjadi.
Ada yang percaya lewat bukti tidak langsung. Awalnya mereka meragukan cerita ini, namun setelah menerima informasi lainnya—misalnya dengan melihat kuburan yang telah kosong itu—lalu tahulah mereka bahwa Yesus telah bangkit.
Ada yang percaya lewat bukti-bukti langsung. Mereka baru percaya bahwa Yesus telah bangkit setelah melihat Kristus secara langsung.
Demon (iblis), darkness (kegelapan) dan death (maut) telah dikalahkan, namun mereka masih melampiaskan kebencian mereka yang meluap-luap terhadap ciptaan Allah. Tetapi jangan kuatir... Yesus hidup dengan hidup baru yang benar-benar ingin dia bagikan kepada siapa saja yang percaya. Apakah Anda termasuk yang percaya? Atau apakah Anda sekarang sadar bahwa Anda butuh Juruselamat? Kesadaran yang bagus buat Anda!
Devil [iblis], darkness [kegelapan] dan death [maut] boleh saja menggertak dan membual, kepedihan hidup mungkin masih akan menghunjam dalam beberapa waktu, akan tetapi bala tentara kejahatan sedang menghembuskan nafas terakhir mereka. Jadi, tak ada yang perlu dikuatirkan... Dia telah bangkit! Dia memang telah bangkit!
dikutip dari: fan page Selamat Pagi Roh Kudus
Oleh: Charles R. Swindoll
Perlu saya akui bahwa 3D (darkness, devil, death) itu melandasi hampir semua kekuatiran yang saya alami. Saya menguatirkan death [maut]—terutama kematian orang-orang yang saya kasihi. Saya kuatir pada darkness [kegelapan], baik yang alamiah maupun yang rohaniah. Saya juga kuatir pada hal-hal yang akan dilakukan oleh devil [iblis].
Iblis, kegelapan dan maut... ketiganya bekerja dengan giat di sepanjang pelayanan Yesus yang berpuncak pada hari yang panjang dan menyengsarakan itu. Namun, hal yang luput dari pengamatan orang-orang adalah bahwa kematian Mesias itu justru menghunjam jantung sang iblis.
Tiga hari setelah Yesus dibaringkan dalam kubur, pada Minggu pagi, Maria Magdalena dan beberapa perempuan yang lain pergi kekuburan. Saat mendekati kuburan tersebut, mereka dapati bahwa batu besar penutup pintu kuburan telah tersingkir. Maria Magdalena segera lari memberitahukan Petrus dan Yohanes, "Tuhan telah diambil orang dari kuburnya dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan." (Yohanes 20:2).
Saat Maria Magdalena pergi, salah satu dari perempuan yang tinggal itu mendekati kuburan. Lubang pintu kuburan itu terbuka. Bagian dalam kuburan itu sendiri tetap seperti sedia kala, hanya saja sudah kosong. Tidak ada jenazah di sana. Mereka terheran sesaat, sampai kemudian menyadari keberadaan dua malaikat di belakang mereka. Yang satu duduk di atas batu sedangkan yang seorang lagi berdiri di dekatnya. "Mengapa kamu mencari Dia yang hidup, di antara orang mati? Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit. Ingatlah apa yang dikatakan-Nya kepada kamu, ketika Ia masih di Galilea." (Lukas 24:5-6).
Saat mereka berlari dari kuburan itu, mereka bertemu seseorang yang meredakan ketakutan mereka. "Tiba-tiba Yesus berjumpa dengan mereka dan berkata: 'Salam bagimu.' ... 'Jangan takut. Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudara-Ku, supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku.'" (Matius 28:9-10).
Saat para perempuan itu menceritakan apa yang telah terjadi, para murid menganggap itu hanya omongan orang gila, celotehan tanpa arti. Sementara itu, Maria Magdalena menemui Petrus dan Yohanes. Pada awalnya, mereka juga mengabaikan ceritanya, namun rasa ingin tahu akhirnya mendorong mereka untuk lari ke kuburan.
Saat Yohanes tiba, dia berhenti di pintu masuk dan melihat ke dalam. Petrus berlari masuk ke dalam dan dikejutkan dengan apa yang dilihatnya. Saat masuk bersama Petrus ke dalam kuburan, saya senang membayangkan bahwa Yohanes berbisik kepada Petrus, "Dia hidup!"
Saat berita itu tersebar, banyak murid lalu berkumpul di sebuah rumah di Yerusalem. Dalam keadaan pintu rumah itu terkunci, tiba-tiba terdengar suara di tengah ruangan, "'Damai sejahtera bagi kamu!' Dan sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka." (Yohanes 20:19-20). Lalu mereka percaya.
Sayangnya, Tomas—salah satu dari kedua belas murid—saat itu tidak berada di sana. Saat dia tiba, semua orang bercerita kepadanya tentang kejadian tersebut. Tomas tidak mau percaya. "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya." (Yohanes 20:25).
Delapan hari kemudian, ketika Tomas sedang berada di rumah itu, dengan pintu yang terkunci lebih rapat dari sebelumya, "Damai sejahtera bagi kamu!" (Yohanes 20:26). Yesus kembali berdiri di tengah ruangan, "Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah." (Yohanes 20:27). Tomas tidak bergerak. Dia bahkan tidak mengangkat satu jari pun. Dia menjawab seperti lazimnya seorang murid Yesus mampu menjawab, "Ya Tuhanku dan Allahku!" (Yohanes 20:28).
Tanggapan orang-orang yang akrab dengan Yesus, pada Minggu pagi itu, sama dengan reaksi yang saya temui setiap hari sebagai seorang pemberita kabar baik di zaman modern ini.
Ada yang langsung percaya. Mereka menerima informasi tersebut, mengingat lagi akan hal-hal yang telah dinubuatkan oleh Yesus selama pelayanannya, dan menerima kebangkitan-nya sebagai hal yang benar-benar terjadi.
Ada yang percaya lewat bukti tidak langsung. Awalnya mereka meragukan cerita ini, namun setelah menerima informasi lainnya—misalnya dengan melihat kuburan yang telah kosong itu—lalu tahulah mereka bahwa Yesus telah bangkit.
Ada yang percaya lewat bukti-bukti langsung. Mereka baru percaya bahwa Yesus telah bangkit setelah melihat Kristus secara langsung.
Demon (iblis), darkness (kegelapan) dan death (maut) telah dikalahkan, namun mereka masih melampiaskan kebencian mereka yang meluap-luap terhadap ciptaan Allah. Tetapi jangan kuatir... Yesus hidup dengan hidup baru yang benar-benar ingin dia bagikan kepada siapa saja yang percaya. Apakah Anda termasuk yang percaya? Atau apakah Anda sekarang sadar bahwa Anda butuh Juruselamat? Kesadaran yang bagus buat Anda!
Devil [iblis], darkness [kegelapan] dan death [maut] boleh saja menggertak dan membual, kepedihan hidup mungkin masih akan menghunjam dalam beberapa waktu, akan tetapi bala tentara kejahatan sedang menghembuskan nafas terakhir mereka. Jadi, tak ada yang perlu dikuatirkan... Dia telah bangkit! Dia memang telah bangkit!
dikutip dari: fan page Selamat Pagi Roh Kudus
Oleh: Charles R. Swindoll
Aku Tak Sanggup TanpaMu
Di saat aku harus menapaki jalan hidupku
dengan semangat yang patah dan lemah
aku memandang Tuhan dan berseru
"Tuhan, aku tidak sanggup melewati ini semua tanpaMu"
Tuhan memandangku dan dengan lembut berkata
"Sesungguhnya Aku menyertai engkau"
"dan Aku akan melindungi engkau"
"ke mana pun engkau pergi"
"dan Aku akan membawa engkau kembali ke negeri ini"
"sebab Aku tidak akan meninggalkan engkau"
"melainkan tetap melakukan apa yang kujanjikan kepadamu"
~Kej 28:15~
Aku menjadi tersadar akan kebaikan dan kasihNya dalam hidupku
saat itu juga Tuhan membarui semangatku
dan menguatkan hatiku
Aku percaya Tuhan yang menyertaiku
Aku percaya Tuhan yang melindungiku
ke mana pun aku menapaki jalan hidupku
Tuhan yang akan membawaku kepadaNya
Tuhan tidak pernah meninggalkanku
Tuhan yang akan menggenapi rencanaNya dalam hidupku.
dengan semangat yang patah dan lemah
aku memandang Tuhan dan berseru
"Tuhan, aku tidak sanggup melewati ini semua tanpaMu"
Tuhan memandangku dan dengan lembut berkata
"Sesungguhnya Aku menyertai engkau"
"dan Aku akan melindungi engkau"
"ke mana pun engkau pergi"
"dan Aku akan membawa engkau kembali ke negeri ini"
"sebab Aku tidak akan meninggalkan engkau"
"melainkan tetap melakukan apa yang kujanjikan kepadamu"
~Kej 28:15~
Aku menjadi tersadar akan kebaikan dan kasihNya dalam hidupku
saat itu juga Tuhan membarui semangatku
dan menguatkan hatiku
Aku percaya Tuhan yang menyertaiku
Aku percaya Tuhan yang melindungiku
ke mana pun aku menapaki jalan hidupku
Tuhan yang akan membawaku kepadaNya
Tuhan tidak pernah meninggalkanku
Tuhan yang akan menggenapi rencanaNya dalam hidupku.
Rabu, 13 April 2011
Menyanyi Bagi Tuhan
Sepanjang malam ada tangisan, menjelang pagi terdengar sorak-sorai (Mazmur 30:6)
Penderitaan adalah bagaikan orang asing yang mencurigakan, yang mengetuk pintu rumah Anda. Mau tidak mau Anda harus mengizinkannya masuk karena ia terus-menerus mengetuk pintu dan tidak mau pergi. Anda merasa yakin bahwa tidak ada seorang pun yang melihat kesedihan Anda dan Anda merasa kesepian tetapi Allah melihat kesedihan yang tengah Anda rasakan dan Dia mengerti.
Setiap malam aku menggenangi tempat tidurku, dengan air mataku aku membanjiri ranjangku, keluh Daud di dalam Mazmur 6:7. Tuhan telah mendengar tangisku (ayat 9). Sengsaraku Engkaulah yang menghitung-hitung, air mataku Kautaruh ke dalam kirbat-Mu. Bukankah semuanya telah Kaudaftarkan? (56:9). Walaupun sepanjang malam ada tangisan, itu tidak akan berlangsung selamanya, karena menjelang pagi terdengar sorak-sorai (30:6).
Seperti halnya Daud, kita ingat bahwa kasih dan kebaikan hati Allah akan berlangsung selama seumur hidup kita. Dia telah berjanji tidak akan meninggalkan maupun membiarkan kita. Manakala kasih Allah masuk ke dalam pikiran kita, kepedihan hati dan ketakutan kita akan lenyap. Ratapan kita akan diubah menjadi tarian, pakaian kabung dan derita kita akan dilepaskan, dan kita pun diikat dengan sukacita. Kita dapat bangkit untuk menyambut hari sambil menyerukan puji-pujian karena belas kasihan, tuntunan, dan perlindungan yang telah diberikan-Nya. Kita bersukacita di dalam nama-Nya yang kudus (30:12,13).
Bagaimanapun keadaan kita, marilah kita menyanyi bagi Tuhan sekali lagi!
PUJI-PUJIAN ADALAH SUARA JIWA YANG TERBEBASKAN
(Sumber: http://www.sabda.org/)
Penderitaan adalah bagaikan orang asing yang mencurigakan, yang mengetuk pintu rumah Anda. Mau tidak mau Anda harus mengizinkannya masuk karena ia terus-menerus mengetuk pintu dan tidak mau pergi. Anda merasa yakin bahwa tidak ada seorang pun yang melihat kesedihan Anda dan Anda merasa kesepian tetapi Allah melihat kesedihan yang tengah Anda rasakan dan Dia mengerti.
Setiap malam aku menggenangi tempat tidurku, dengan air mataku aku membanjiri ranjangku, keluh Daud di dalam Mazmur 6:7. Tuhan telah mendengar tangisku (ayat 9). Sengsaraku Engkaulah yang menghitung-hitung, air mataku Kautaruh ke dalam kirbat-Mu. Bukankah semuanya telah Kaudaftarkan? (56:9). Walaupun sepanjang malam ada tangisan, itu tidak akan berlangsung selamanya, karena menjelang pagi terdengar sorak-sorai (30:6).
Seperti halnya Daud, kita ingat bahwa kasih dan kebaikan hati Allah akan berlangsung selama seumur hidup kita. Dia telah berjanji tidak akan meninggalkan maupun membiarkan kita. Manakala kasih Allah masuk ke dalam pikiran kita, kepedihan hati dan ketakutan kita akan lenyap. Ratapan kita akan diubah menjadi tarian, pakaian kabung dan derita kita akan dilepaskan, dan kita pun diikat dengan sukacita. Kita dapat bangkit untuk menyambut hari sambil menyerukan puji-pujian karena belas kasihan, tuntunan, dan perlindungan yang telah diberikan-Nya. Kita bersukacita di dalam nama-Nya yang kudus (30:12,13).
Bagaimanapun keadaan kita, marilah kita menyanyi bagi Tuhan sekali lagi!
PUJI-PUJIAN ADALAH SUARA JIWA YANG TERBEBASKAN
(Sumber: http://www.sabda.org/)
Stop Mengeluh!
Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! (Filipi 4:4)
Dalam sebuah khotbahnya pada bulan Juli 2006, Pdt. Will Bowen dari Gereja One Community Spiritual Center, Kansas City, Amerika, menyerukan gerakan berhenti mengeluh. Ia lantas membagikan gelang karet berwarna ungu kepada setiap anggota jemaatnya.
Aturan mainnya sederhana, gelang itu harus dipakai terus menerus selama 21 hari di salah satu pergelangan tangan, bisa kanan atau kiri. Dan selama itu tidak boleh mengeluh. Jika hal tersebut dilanggar, maka gelang itu harus dipindahkan ke pergelangan tangan yang lain dan jumlah hari dihitung kembali lagi dari awal.
Saat ini, gelang karet itu telah tersebar sebanyak enam juta buah di seluruh dunia. Banyak orang telah merasakan perubahan positif karena menjalankan program berhenti mengeluh ini, khususnya dalam berelasi dan bekerja sama dengan orang lain.
Rupanya manusia memang cenderung lebih mudah mengeluh atau bersungut-sungut daripada bersyukur; lebih mudah melihat hal-hal yang kurang daripada hal-hal baik dalam hidupnya.
Seperti sikap umat Israel. Kasih dan pemeliharaan Tuhan kepada mereka selama berada di padang gurun begitu jelas-mulai dari mengirimkan tiang awan dan tiang api untuk menuntun mereka, sampai mengirimkan burung puyuh dan manna untuk makanan mereka-tetapi tetap saja mereka suka mengeluh.
Sikap suka mengeluh ini tidak ada gunanya. Dan Tuhan juga tidak senang. Karenanya harus dilawan; jangan dituruti, apalagi dijadikan kebiasaan. Caranya, fokuskan pikiran pada hal-hal yang baik dalam hidup ini, dan berusahalah untuk selalu berkata positif.
MENGELUH DAN BERSYUKUR ITU SOAL PILIHAN, PILIHLAH UNTUK SELALU BERSYUKUR.
Dalam sebuah khotbahnya pada bulan Juli 2006, Pdt. Will Bowen dari Gereja One Community Spiritual Center, Kansas City, Amerika, menyerukan gerakan berhenti mengeluh. Ia lantas membagikan gelang karet berwarna ungu kepada setiap anggota jemaatnya.
Aturan mainnya sederhana, gelang itu harus dipakai terus menerus selama 21 hari di salah satu pergelangan tangan, bisa kanan atau kiri. Dan selama itu tidak boleh mengeluh. Jika hal tersebut dilanggar, maka gelang itu harus dipindahkan ke pergelangan tangan yang lain dan jumlah hari dihitung kembali lagi dari awal.
Saat ini, gelang karet itu telah tersebar sebanyak enam juta buah di seluruh dunia. Banyak orang telah merasakan perubahan positif karena menjalankan program berhenti mengeluh ini, khususnya dalam berelasi dan bekerja sama dengan orang lain.
Rupanya manusia memang cenderung lebih mudah mengeluh atau bersungut-sungut daripada bersyukur; lebih mudah melihat hal-hal yang kurang daripada hal-hal baik dalam hidupnya.
Seperti sikap umat Israel. Kasih dan pemeliharaan Tuhan kepada mereka selama berada di padang gurun begitu jelas-mulai dari mengirimkan tiang awan dan tiang api untuk menuntun mereka, sampai mengirimkan burung puyuh dan manna untuk makanan mereka-tetapi tetap saja mereka suka mengeluh.
Sikap suka mengeluh ini tidak ada gunanya. Dan Tuhan juga tidak senang. Karenanya harus dilawan; jangan dituruti, apalagi dijadikan kebiasaan. Caranya, fokuskan pikiran pada hal-hal yang baik dalam hidup ini, dan berusahalah untuk selalu berkata positif.
MENGELUH DAN BERSYUKUR ITU SOAL PILIHAN, PILIHLAH UNTUK SELALU BERSYUKUR.
Bankir Yang Tidak Bisa Baca Tulis
100% Kisah Nyata
Ada seorang Yunani yang sedang melamar bekerja di sebuah perusahaan. Pada saat wawancara, pewawancaranya merasa senang dengan kepribadian orang itu dan setuju bila ia bekerja di sana. Namun setelah ditanya ternyata orang itu tidak bisa membaca ataupun menulis. Ia hanya bisa menulis namanya sendiri dan tanda tangan. Padahal pekerjaan yang dibutuhkan adalah tukang ketik. Jadi terpaksa lamarannya ditolak.
Orang itu menjadi sedih karena tidak bisa diterima bekerja di kantor itu. Singkat cerita orang itu pergi ke Amerika dan tinggal di sana. Dalam perantauannya di Amerika ia berusaha dengan keras. Ia mencoba untuk berdagang di pasar, karena berjualan di pasar tidak diperlukan surat menyurat. Dia terus berjualan dan akhirnya ia menjadi seorang pengusaha yang berhasil. Saat ia mulai berhasil, ia mengembangkan usaha perkreditan dan ketika usaha perkreditannya berkembang akhirnya ia mengembangkannya menjadi bank. Dan akhirnya, orang Yunani ini menjadi seorang bankir.
Dalam kesuksesannya sebagai seorang bankir, seorang wartawan mewawancarainya dan menemukan kisahnya bahwa dulu ia tidak bisa membaca dan menulis. Wartawan itu kaget dan berkata,”Wah, bapak ini luar biasa. Tidak bisa membaca dan menulis saja bapak bisa menjadi seorang pengusaha yang sukses, apalagi kalau bapak bisa membaca dan menulis, pasti bapak jauh akan lebih sukses lagi.”
Mendengar pernyataan wartawan itu, ia menggeleng-gelengkan kepalanya lalu berkata,”Tidak, kalau saya bisa membaca dan menulis sejak kecil, maka saya tidak jadi pengusaha, tapi saya hanya akan menjadi seorang tukang ketik.”
Mengapa orang yang tidak bisa membaca dan menulis ini bisa sukses? Ia berhasil karena ia memiliki keuletan dan kegigihan. Ia mau berjuang. Ia tidak mau menyerah dengan kekurangannya. Pendidikan formal memang penting, setiap zaman butuh pendidikan yang lebih tinggi untuk keberhasilan yang sama, tetapi lebih penting lagi adalah kecerdasan emosinya, karakternya, kegigihan, keuletan, ketekunan yang membuat seseorang menjadi berhasil.
Sumber : Inspirasisukseshhk.blogspot.com/Ir.Jarot Wijanarko
Ada seorang Yunani yang sedang melamar bekerja di sebuah perusahaan. Pada saat wawancara, pewawancaranya merasa senang dengan kepribadian orang itu dan setuju bila ia bekerja di sana. Namun setelah ditanya ternyata orang itu tidak bisa membaca ataupun menulis. Ia hanya bisa menulis namanya sendiri dan tanda tangan. Padahal pekerjaan yang dibutuhkan adalah tukang ketik. Jadi terpaksa lamarannya ditolak.
Orang itu menjadi sedih karena tidak bisa diterima bekerja di kantor itu. Singkat cerita orang itu pergi ke Amerika dan tinggal di sana. Dalam perantauannya di Amerika ia berusaha dengan keras. Ia mencoba untuk berdagang di pasar, karena berjualan di pasar tidak diperlukan surat menyurat. Dia terus berjualan dan akhirnya ia menjadi seorang pengusaha yang berhasil. Saat ia mulai berhasil, ia mengembangkan usaha perkreditan dan ketika usaha perkreditannya berkembang akhirnya ia mengembangkannya menjadi bank. Dan akhirnya, orang Yunani ini menjadi seorang bankir.
Dalam kesuksesannya sebagai seorang bankir, seorang wartawan mewawancarainya dan menemukan kisahnya bahwa dulu ia tidak bisa membaca dan menulis. Wartawan itu kaget dan berkata,”Wah, bapak ini luar biasa. Tidak bisa membaca dan menulis saja bapak bisa menjadi seorang pengusaha yang sukses, apalagi kalau bapak bisa membaca dan menulis, pasti bapak jauh akan lebih sukses lagi.”
Mendengar pernyataan wartawan itu, ia menggeleng-gelengkan kepalanya lalu berkata,”Tidak, kalau saya bisa membaca dan menulis sejak kecil, maka saya tidak jadi pengusaha, tapi saya hanya akan menjadi seorang tukang ketik.”
Mengapa orang yang tidak bisa membaca dan menulis ini bisa sukses? Ia berhasil karena ia memiliki keuletan dan kegigihan. Ia mau berjuang. Ia tidak mau menyerah dengan kekurangannya. Pendidikan formal memang penting, setiap zaman butuh pendidikan yang lebih tinggi untuk keberhasilan yang sama, tetapi lebih penting lagi adalah kecerdasan emosinya, karakternya, kegigihan, keuletan, ketekunan yang membuat seseorang menjadi berhasil.
Sumber : Inspirasisukseshhk.blogspot.com/Ir.Jarot Wijanarko
Langganan:
Postingan (Atom)