Selasa, 26 April 2011

Jangan Kuatir... Kristus Telah Bangkit!

Pada hari Yesus disalibkan, kekelaman menutupi matahari dan membungkus Yerusalem dalam kegelapan yang jahat. Seolah-olah setiap orang bisa melihat dengan mata kepala sendiri bahwa kegelapan, iblis dan maut telah mengalahkan Anak Allah untuk selamanya.

Perlu saya akui bahwa 3D (darkness, devil, death) itu melandasi hampir semua kekuatiran yang saya alami. Saya menguatirkan death [maut]—terutama kematian orang-orang yang saya kasihi. Saya kuatir pada darkness [kegelapan], baik yang alamiah maupun yang rohaniah. Saya juga kuatir pada hal-hal yang akan dilakukan oleh devil [iblis].

Iblis, kegelapan dan maut... ketiganya bekerja dengan giat di sepanjang pelayanan Yesus yang berpuncak pada hari yang panjang dan menyengsarakan itu. Namun, hal yang luput dari pengamatan orang-orang adalah bahwa kematian Mesias itu justru menghunjam jantung sang iblis.

Tiga hari setelah Yesus dibaringkan dalam kubur, pada Minggu pagi, Maria Magdalena dan beberapa perempuan yang lain pergi kekuburan. Saat mendekati kuburan tersebut, mereka dapati bahwa batu besar penutup pintu kuburan telah tersingkir. Maria Magdalena segera lari memberitahukan Petrus dan Yohanes, "Tuhan telah diambil orang dari kuburnya dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan." (Yohanes 20:2).

Saat Maria Magdalena pergi, salah satu dari perempuan yang tinggal itu mendekati kuburan. Lubang pintu kuburan itu terbuka. Bagian dalam kuburan itu sendiri tetap seperti sedia kala, hanya saja sudah kosong. Tidak ada jenazah di sana. Mereka terheran sesaat, sampai kemudian menyadari keberadaan dua malaikat di belakang mereka. Yang satu duduk di atas batu sedangkan yang seorang lagi berdiri di dekatnya. "Mengapa kamu mencari Dia yang hidup, di antara orang mati? Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit. Ingatlah apa yang dikatakan-Nya kepada kamu, ketika Ia masih di Galilea." (Lukas 24:5-6).

Saat mereka berlari dari kuburan itu, mereka bertemu seseorang yang meredakan ketakutan mereka. "Tiba-tiba Yesus berjumpa dengan mereka dan berkata: 'Salam bagimu.' ... 'Jangan takut. Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudara-Ku, supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku.'" (Matius 28:9-10).

Saat para perempuan itu menceritakan apa yang telah terjadi, para murid menganggap itu hanya omongan orang gila, celotehan tanpa arti. Sementara itu, Maria Magdalena menemui Petrus dan Yohanes. Pada awalnya, mereka juga mengabaikan ceritanya, namun rasa ingin tahu akhirnya mendorong mereka untuk lari ke kuburan.

Saat Yohanes tiba, dia berhenti di pintu masuk dan melihat ke dalam. Petrus berlari masuk ke dalam dan dikejutkan dengan apa yang dilihatnya. Saat masuk bersama Petrus ke dalam kuburan, saya senang membayangkan bahwa Yohanes berbisik kepada Petrus, "Dia hidup!"

Saat berita itu tersebar, banyak murid lalu berkumpul di sebuah rumah di Yerusalem. Dalam keadaan pintu rumah itu terkunci, tiba-tiba terdengar suara di tengah ruangan, "'Damai sejahtera bagi kamu!' Dan sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka." (Yohanes 20:19-20). Lalu mereka percaya.

Sayangnya, Tomas—salah satu dari kedua belas murid—saat itu tidak berada di sana. Saat dia tiba, semua orang bercerita kepadanya tentang kejadian tersebut. Tomas tidak mau percaya. "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya." (Yohanes 20:25).

Delapan hari kemudian, ketika Tomas sedang berada di rumah itu, dengan pintu yang terkunci lebih rapat dari sebelumya, "Damai sejahtera bagi kamu!" (Yohanes 20:26). Yesus kembali berdiri di tengah ruangan, "Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah." (Yohanes 20:27). Tomas tidak bergerak. Dia bahkan tidak mengangkat satu jari pun. Dia menjawab seperti lazimnya seorang murid Yesus mampu menjawab, "Ya Tuhanku dan Allahku!" (Yohanes 20:28).

Tanggapan orang-orang yang akrab dengan Yesus, pada Minggu pagi itu, sama dengan reaksi yang saya temui setiap hari sebagai seorang pemberita kabar baik di zaman modern ini.

Ada yang langsung percaya. Mereka menerima informasi tersebut, mengingat lagi akan hal-hal yang telah dinubuatkan oleh Yesus selama pelayanannya, dan menerima kebangkitan-nya sebagai hal yang benar-benar terjadi.

Ada yang percaya lewat bukti tidak langsung. Awalnya mereka meragukan cerita ini, namun setelah menerima informasi lainnya—misalnya dengan melihat kuburan yang telah kosong itu—lalu tahulah mereka bahwa Yesus telah bangkit.

Ada yang percaya lewat bukti-bukti langsung. Mereka baru percaya bahwa Yesus telah bangkit setelah melihat Kristus secara langsung.

Demon (iblis), darkness (kegelapan) dan death (maut) telah dikalahkan, namun mereka masih melampiaskan kebencian mereka yang meluap-luap terhadap ciptaan Allah. Tetapi jangan kuatir... Yesus hidup dengan hidup baru yang benar-benar ingin dia bagikan kepada siapa saja yang percaya. Apakah Anda termasuk yang percaya? Atau apakah Anda sekarang sadar bahwa Anda butuh Juruselamat? Kesadaran yang bagus buat Anda!

Devil [iblis], darkness [kegelapan] dan death [maut] boleh saja menggertak dan membual, kepedihan hidup mungkin masih akan menghunjam dalam beberapa waktu, akan tetapi bala tentara kejahatan sedang menghembuskan nafas terakhir mereka. Jadi, tak ada yang perlu dikuatirkan... Dia telah bangkit! Dia memang telah bangkit!


dikutip dari: fan page Selamat Pagi Roh Kudus
Oleh: Charles R. Swindoll

Aku Tak Sanggup TanpaMu

Di saat aku harus menapaki jalan hidupku
dengan semangat yang patah dan lemah
aku memandang Tuhan dan berseru
"Tuhan, aku tidak sanggup melewati ini semua tanpaMu"

Tuhan memandangku dan dengan lembut berkata
"Sesungguhnya Aku menyertai engkau"
"dan Aku akan melindungi engkau"
"ke mana pun engkau pergi"
"dan Aku akan membawa engkau kembali ke negeri ini"
"sebab Aku tidak akan meninggalkan engkau"
"melainkan tetap melakukan apa yang kujanjikan kepadamu"
~Kej 28:15~

Aku menjadi tersadar akan kebaikan dan kasihNya dalam hidupku
saat itu juga Tuhan membarui semangatku
dan menguatkan hatiku
Aku percaya Tuhan yang menyertaiku
Aku percaya Tuhan yang melindungiku
ke mana pun aku menapaki jalan hidupku
Tuhan yang akan membawaku kepadaNya
Tuhan tidak pernah meninggalkanku
Tuhan yang akan menggenapi rencanaNya dalam hidupku.

Rabu, 13 April 2011

Menyanyi Bagi Tuhan

Sepanjang malam ada tangisan, menjelang pagi terdengar sorak-sorai (Mazmur 30:6)

Penderitaan adalah bagaikan orang asing yang mencurigakan, yang mengetuk pintu rumah Anda. Mau tidak mau Anda harus mengizinkannya masuk karena ia terus-menerus mengetuk pintu dan tidak mau pergi. Anda merasa yakin bahwa tidak ada seorang pun yang melihat kesedihan Anda dan Anda merasa kesepian tetapi Allah melihat kesedihan yang tengah Anda rasakan dan Dia mengerti.


Setiap malam aku menggenangi tempat tidurku, dengan air mataku aku membanjiri ranjangku, keluh Daud di dalam Mazmur 6:7. Tuhan telah mendengar tangisku (ayat 9). Sengsaraku Engkaulah yang menghitung-hitung, air mataku Kautaruh ke dalam kirbat-Mu. Bukankah semuanya telah Kaudaftarkan? (56:9). Walaupun sepanjang malam ada tangisan, itu tidak akan berlangsung selamanya, karena menjelang pagi terdengar sorak-sorai (30:6).


Seperti halnya Daud, kita ingat bahwa kasih dan kebaikan hati Allah akan berlangsung selama seumur hidup kita. Dia telah berjanji tidak akan meninggalkan maupun membiarkan kita. Manakala kasih Allah masuk ke dalam pikiran kita, kepedihan hati dan ketakutan kita akan lenyap. Ratapan kita akan diubah menjadi tarian, pakaian kabung dan derita kita akan dilepaskan, dan kita pun diikat dengan sukacita. Kita dapat bangkit untuk menyambut hari sambil menyerukan puji-pujian karena belas kasihan, tuntunan, dan perlindungan yang telah diberikan-Nya. Kita bersukacita di dalam nama-Nya yang kudus (30:12,13).


Bagaimanapun keadaan kita, marilah kita menyanyi bagi Tuhan sekali lagi!


PUJI-PUJIAN ADALAH SUARA JIWA YANG TERBEBASKAN

(Sumber: http://www.sabda.org/)

Stop Mengeluh!

Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! (Filipi 4:4)

Dalam sebuah khotbahnya pada bulan Juli 2006, Pdt. Will Bowen dari Gereja One Community Spiritual Center, Kansas City, Amerika, menyerukan gerakan berhenti mengeluh. Ia lantas membagikan gelang karet berwarna ungu kepada setiap anggota jemaatnya.

Aturan mainnya sederhana, gelang itu harus dipakai terus menerus selama 21 hari di salah satu pergelangan tangan, bisa kanan atau kiri. Dan selama itu tidak boleh mengeluh. Jika hal tersebut dilanggar, maka gelang itu harus dipindahkan ke pergelangan tangan yang lain dan jumlah hari dihitung kembali lagi dari awal.

Saat ini, gelang karet itu telah tersebar sebanyak enam juta buah di seluruh dunia. Banyak orang telah merasakan perubahan positif karena menjalankan program berhenti mengeluh ini, khususnya dalam berelasi dan bekerja sama dengan orang lain.

Rupanya manusia memang cenderung lebih mudah mengeluh atau bersungut-sungut daripada bersyukur; lebih mudah melihat hal-hal yang kurang daripada hal-hal baik dalam hidupnya.

Seperti sikap umat Israel. Kasih dan pemeliharaan Tuhan kepada mereka selama berada di padang gurun begitu jelas-mulai dari mengirimkan tiang awan dan tiang api untuk menuntun mereka, sampai mengirimkan burung puyuh dan manna untuk makanan mereka-tetapi tetap saja mereka suka mengeluh.

Sikap suka mengeluh ini tidak ada gunanya. Dan Tuhan juga tidak senang. Karenanya harus dilawan; jangan dituruti, apalagi dijadikan kebiasaan. Caranya, fokuskan pikiran pada hal-hal yang baik dalam hidup ini, dan berusahalah untuk selalu berkata positif.


MENGELUH DAN BERSYUKUR ITU SOAL PILIHAN, PILIHLAH UNTUK SELALU BERSYUKUR.

Bankir Yang Tidak Bisa Baca Tulis

100% Kisah Nyata

Ada seorang Yunani yang sedang melamar bekerja di sebuah perusahaan. Pada saat wawancara, pewawancaranya merasa senang dengan kepribadian orang itu dan setuju bila ia bekerja di sana. Namun setelah ditanya ternyata orang itu tidak bisa membaca ataupun menulis. Ia hanya bisa menulis namanya sendiri dan tanda tangan. Padahal pekerjaan yang dibutuhkan adalah tukang ketik. Jadi terpaksa lamarannya ditolak.

Orang itu menjadi sedih karena tidak bisa diterima bekerja di kantor itu. Singkat cerita orang itu pergi ke Amerika dan tinggal di sana. Dalam perantauannya di Amerika ia berusaha dengan keras. Ia mencoba untuk berdagang di pasar, karena berjualan di pasar tidak diperlukan surat menyurat. Dia terus berjualan dan akhirnya ia menjadi seorang pengusaha yang berhasil. Saat ia mulai berhasil, ia mengembangkan usaha perkreditan dan ketika usaha perkreditannya berkembang akhirnya ia mengembangkannya menjadi bank. Dan akhirnya, orang Yunani ini menjadi seorang bankir.

Dalam kesuksesannya sebagai seorang bankir, seorang wartawan mewawancarainya dan menemukan kisahnya bahwa dulu ia tidak bisa membaca dan menulis. Wartawan itu kaget dan berkata,”Wah, bapak ini luar biasa. Tidak bisa membaca dan menulis saja bapak bisa menjadi seorang pengusaha yang sukses, apalagi kalau bapak bisa membaca dan menulis, pasti bapak jauh akan lebih sukses lagi.”
Mendengar pernyataan wartawan itu, ia menggeleng-gelengkan kepalanya lalu berkata,”Tidak, kalau saya bisa membaca dan menulis sejak kecil, maka saya tidak jadi pengusaha, tapi saya hanya akan menjadi seorang tukang ketik.”

Mengapa orang yang tidak bisa membaca dan menulis ini bisa sukses? Ia berhasil karena ia memiliki keuletan dan kegigihan. Ia mau berjuang. Ia tidak mau menyerah dengan kekurangannya. Pendidikan formal memang penting, setiap zaman butuh pendidikan yang lebih tinggi untuk keberhasilan yang sama, tetapi lebih penting lagi adalah kecerdasan emosinya, karakternya, kegigihan, keuletan, ketekunan yang membuat seseorang menjadi berhasil.

Sumber : Inspirasisukseshhk.blogspot.com/Ir.Jarot Wijanarko

Memegang Kendali Kehidupan

Sebagai manusia, kita ingin memegang kendali dalam hidup kita sendiri. Terlebih lagi ketika seseorang menjadi pemimpin, ia memiliki kekuasaan dan memegang kendali atas banyak hal. Kita suka memegang kendali, karena kita bisa menentukan sesuatu, kita bisa meneriakkan perintah-perintah. Kita bisa memutuskan saat diperlukan, tidak perlu menunggu. Kita ingin apa yang kita mau, tersedia atau dilakukan ketika kita menginginkannya.


Tapi sayangnya, kita tidak selalu memegang kendali dalam kehidupan ini. Ada saatnya dimana kita lelah, letih dan tidak mampu lagi memegang kendali. Kita lupa bahwa ada satu pribadi yang memegang kendali atas kehidupan ini, Tuhan. Sering kali kita lupa bahwa Tuhanlah pemegang kendali atas seluruh kehidupan kita, itu sebabnya kita sering kelelahan dan merasa tidak berdaya ketika sesuatu terjadi di luar kendali dan keinginan kita. Mari kita belajar tentang tiga hal yang akan kita alami ketika Allah yang memegang kendali dalam hidup kita.

1. Belajar rendah hati.

Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu. ~ Yesaya 55:8-9

“Jika jalan-jalan Allah lebih tinggi daripada jalan-jalan saya, maka apapun yang Dia izinkan terjadi, saya akan tunduk di hadapan-Nya di dalam ketaatan.” Jika Anda mengambil langkah ini, hasilnya adalah sikap rendah hati di hadapan Allah karena Anda mengakui dan mempercayai bahwa Dia yang mengendalikan dan berdaulat atas hidup Anda. Percayalah, ketika Anda menyerahkan kendali kehidupan Anda ketangan Tuhan, rencana-Nya atas hidup Anda adalah sebuah rencana yang indah.

2. Mengalami kelegaan

Ketika Anda tahu bahwa Tuhan yang memegang kendali, Anda pasti tahu bahwa Anda aman ditangan-Nya. Pada akhirnya Anda bisa rileks, santai dan merasakan kelegaan. Yang perlu Anda lakukan adalah taat pada tuntunan Tuhan saja.

Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh. Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kaumaklumi. Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan, sesungguhnya, semuanya telah Kauketahui, ya TUHAN. ~ Mazmur 139:2-4


3. Menemukan semua jawaban atas setiap pertanyaan.

Ketika Anda menyerahkan kendali kepada Tuhan, Dia akan menuntun Anda dan mengajarkan kepada Anda jalan-jalan-Nya. Yang perlu Anda lakukan hanyalah menjadi seorang murid yang baik, rendah hati, tunduk dan taat pada perintah-Nya. Semua itu adalah sebuah proses, karena kita adalah seorang murid, hal tersebut adalah proses pembelajaran hidup.

Sebab Ia telah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita, sesuai dengan rencana kerelaan-Nya, yaitu rencana kerelaan yang dari semula telah ditetapkan-Nya di dalam Kristus. ~ Efesus 1:9

Sikap Anda akan menentukan kehidupan Anda, demikian juga dengan pilihan Anda dalam menentukan sikap apakah akan menyerahkan kendali hidup Anda pada Tuhan atau tetap Anda kendalikan sendiri.

Rabu, 30 Maret 2011

Be Myself

“Janganlah kamu berubah menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaruan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna” (Roma 12:2)

Pada era 1980-an, anak-anak muda kegandrungan sama sosok Michael Jackson. Cowok negro berkulit putih ini seolah jadi icon bagi anak muda dengan gaya tarian dan teriakannya yang khas.

Di era 1990-an, dunia digoncang oleh beberapa boyband, sebut saja New Kids on The Block, Backstreet Boys, Boyzone, dll. Memasuki abad 21, icon mulai bergeser. Japanese dan Korean style mulai mewabah di kalangan anak muda. Situasi seperti ini sebenarnya menunjukkan kalau trendsetter di dunia ini terus mengalami perubahan dari waktu ke waktu.

Sebagai anak muda, kita bisa saja meniru dan berdandan dalam pelbagai gaya. Tidak heran kalau pemikiran dan gaya hidup kita dicocok-cocokkan sama mereka yang kita idolakan. Kita ingin tampak seperti mereka. Dan kita bangga bila orang lain mengerti jika dandanan kita sama dengan tokoh idola yang sedang menjadi trendsetter.
Ini yang harus kita perhatikan, kenapa kita senang meniru orang lain yang jadi trendsetter? Kenapa bukan kita yang jadi trendsetter? Kagum sama orang lain wajar saja, kita mungkin senang melihat orang yang penampilannya keren, punya dandanan ok, dengan senyuman yang khas, pandangan dengan sorot mata yang tajam. Mungkin juga gaya bicara, cara jalan, atau kita kagum dengan nila-nilai hidup yang ada dalam diri orang itu. mungkin kita langsung mikir, “I want to be like him or her”

Mengagumi orang lain karena segi – segi positif dalam diri orang itu adalah hal yang sah. Tapi kekaguman sama sekali tidak berarti kita harus menjadi persis seperti orang itu. kekaguman yang kita perlihatkan bukanlah dengan cara meniru orang itu habis-habisan. Kekaguman kita pada orang lain tidak berarti kita harus mencontek dia dari ujung kepala sampai ujung kaki.

Firman Tuhan mengingatkan kita agar kita tidak menjadi sama seperti dunia ini. Artinya, kalau hari ini kita masih kagum sama orang lain dan meniru semua yang ada pada diri orang itu, bisa-bisa kita jadi sama dengan dunia ini. Tuhan ingin kita menjadi sosok yang Tuhan inginkan. Tuhan ingin kita tetap menjadi diri sendiri, pribadi yang diproses Tuhan secara istimewa. Bayangkan, kita ini istimewa!
Jadi, tidak ada gunanya memilih untuk jadi pribadi yang lain. Just be yourself!




Sumber: Youth - Renungan Bulanan Remaja